Wisata Terbang Layang Pantai Carocok Sumatera Barat




Terbang Layang Di Carocok Painan
Obyek Wisata Pantai Painan yang berlokasi sekitar 54 Km dari kota Padang merupakan sebuah daerah kawasan pantai dengan pesona pemandangan alam pantainya yang putih dan mempesona lebih alami di banding pantai-pantai yang ada di Bali, dan belum seluruhnya tergarap optimal. Dengan kultur masyarakat yang terbuka dan ramah. Sangat menantang untuk dijelajahi. Setiap bualan juli pemda Kabupaten pesisir selatan mengelar event Internasional olahraga Terbang Layang DiCarocok Painan.

Kita juga dapat melihat pemandangan dari atas yang sangat indah dengan kawasankota Painan. Dengan hembusan angin yang sejuk olahraga ini juga akan menguji andernalin anda pemandang danau Carocok yang indah dengan air yang biru dan awan biru membuat kepuasan anda akan terbang layang di corocok painan. Anda tidak akan pernah menyesal untuk datang dan menikmati keindahan yang du suguhkan dari atas.

Pantai Air Manis,pantai Legenda si Malin Kundang




Pantai Air ManisPantai Air Manis berkaitan erat dengan legenda Malin Kundang di Sumatera Barat. Malin Kundang adalah karakter dalam dongeng yang berubah menjadi batu, bersama-sama dengan kapalnya, setelah durhaka kepada ibunya. Di tepi pantai, terdapat batu Malin Kundang dan beberapa perlengkapan kapalnya, yang juga berubah menjadi batu. Berdasarkan cerita, Malin Kundang dikutuk oleh ibunya karena menolak untuk mengakui ibunya setelah bepergian ke daerah lain dan menjadi kaya.
Pantai Air Manis adalah tempat wisata favorit bagi wisatawan lokal dan asing karena memiliki gelombang yang rendah dan pemandangan indah Gunung Padang. Ada juga sebuah pulau kecil bernama Pisang Kecil. Dari pagi hingga sore, Anda bisa berjalan kaki ke pulau yang memiliki luas satu hektar ini melalui air dangkal. Di sore hari, air pasang mulai naik dan Anda harus menggunakan perahu untuk kembali. Di sebelah kanannya, ada pulau lain yang disebut Pisang Besar. Penduduk lokal di pulau ini sebagian besar petani dan nelayan.

Paket Wisata kepulauan mentawai,Surga Surfing yang indah

Kepulauan Mentawai adalah bagian dari Provinsi Sumatera Barat dimana sejak tahun 1999 ditetapkan menjadi sebuah kabupaten. Posisi Kepulauan Mentawai yang ada di tengah Samudera Hindia membuatnya dikelilingi alam laut yang mengagumkan dan sempurna untuk wisata bahari. Mentawai telah tersohor menjadi salah satu tujuan wisata berpetualang, wisata budaya, dan wisata bahari terutama surfing yang diminati peselancar dalam dan luar negeri.
Kepulauan Mentawai: Surganya Peselancar dan Budaya Masyarakat NeolitikumKepulauan Mentawai sendiri merupakan rangkaian pulau non-vulkanik dimana gugusan kepulauannya merupakan puncak dari suatu punggung pegunungan bawah laut. Ada empat pulau yang membentuk Kepulauan Mentawai yaitu Pulau Siberut, Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara, dan Pulau Pagai Selatan. Lokasi pulau-pulau tersebut berada di lepas pantai Provinsi Sumatera Barat yang memanjang dan dikelilingi Samudera Hindia. 
Pulau Siberut adalah pulau terbesar di kepulauan ini dan satu-satunya yang memiliki pelayaran regular dengan Kota Padang di Sumatera Barat. Pusat pemerintahan kabupatennya sendiri berada di Tuapejat, yaitu sebelah utara Pulau Sipora.
Surfing atau selancar telah menjadi ikon wisata Kepulauan Mentawai, bahkan tidak jarang digelar kompetisi surfing bertaraf internasional di sini.  Sedikitnya tersebar 400 titik surfing di Kepulauan Mentawai. Ombaknya beraggam dan menantang, bahkan beberapa gulungan ombaknya termasuk dalam kategori extreme yang dicari peselancar dari berbagai penjuru dunia.
Kepulauan Mentawai: Surganya Peselancar dan Budaya Masyarakat NeolitikumKepulauan Mentawai juga menawarkan atraksi trekking menempuh pedalaman hutan tropis yang masih asli, menikmati gaya hidup masyarakat adat yang tinggal damai di dalamnya. Mentawai adalah sebuah daerah yang belum terjamah banyak oleh tangan manusia dan infrastruktur modern. 
Saat Anda mengunjungi Mentawai maka akan disuguhi nuansa peradaban kuno zaman neolitikum dimana suku-suku di kepulauan ini tidak mengenal pengerjaan logam dan bercocok tanam, bahkan tidak juga teknik menenun kain. Jadi, Anda akan melihat perbedaan kebudayaan dengan masyarakat Minangkabau di bagian darat Sumatera Barat.
Mayoritas penghuni kepulauan ini adalah suku Mentawai yang berasal dari Pulau Siberut dengan jumlah sekira 30.000 jiwa. Setiap keluarga di Kepulauan Mentawai terdiri dari 5-15 orang yang tinggal di dalam desa maupun di ladang dekat hutan yang mereka garap. Rumah tradisional khas Mentawai sendiri dikenal dengan sebutan uma.
Kepulauan Mentawai: Surganya Peselancar dan Budaya Masyarakat NeolitikumKepulauan Mentawai sudah ada sejak lima ratus ribu tahun yang lalu namun tidak terdapat petunjuk atau bukti kapan orang pertama tiba di kepulauan ini. Sebagian besar penduduknya kini masih menganut kepercayaan animisme dan sisanya penganut Kristen dan Islam. Awalnya penduduk setempat meyakini pahamSabulungan yaitu paham yang mempercayai segala sesuatu mulai dari manusia sampai kera, batu dan cuaca yang mempunyai roh yang terpisah dan berkeliaran semaunya. Upacara tradisional oleh Sikerei atau Shaman biasanya dipentaskan selama pesta pernikahan dan saat memasuki rumah baru dengan tujuan untuk mengusir roh-roh jahat.
Suku Mentawai yang menjadi penghuni asli kepulauan yang indah ini. Apabila diamati ada kemiripan dengan suku Nias atau suku Enggano dengan budaya Proto-Melayu. Suku tersebut dikenal sebagai peramu dan ketika pertama kali dipelajari antropolog mereka belum mengenal cara bercocok tanam. 
Suku Mentawai memiliki tradisi khas bertato di sekujur tubuh dimana terkait peran dan status sosial penggunanya. Tato tersebut terbuat dari tebu dan pewarna arang kelapa yang dilukiskan dengan menggunakan paku dan jarum serta dua buah kayu sebagai bantalan dan palu. Proses tato tradisional Mentawai dikenal sangat menyakitkan.

Wisata Pulau Cubadak,Sumatera Barat




Pulau Cubadak merupakan salah satu dari puluhan pulau kecil yang terletak di lepas pantai Sumatera Barat, tepat nya di jarak 24 mil lepas pantai Padang. Pulau ini memiliki luas wilayah sekitar 5.749 km persegi dan berada di ketinggian 0-1000 meter di atas permukaan laut. Pulau ini bisa dikatakan masih sangat alami, menurut cerita masyarakat sekitar pulau ini dahulu adalah bekas kawah dengan luas kurang lebih 40 km persegi. Oleh karena itu di pulau Cubadak ini masih belum dihuni oleh penduduk. Dalam bahasa Minang, kata cubadak mempunyai arti nangka.
Di kawasan ini, para pengunjung dapat menikmati udara yang bersih, laut yang biru, angin pantai yang semilir, rindangnya pohon kelapa yang tentu nya akan menimbulkan efek relaksasi. Selain itu, keistimewaan dari pulau ini adalah terdapat beberapa spot menyelam yang sangat sayang untuk dilewatkan. Jika Pantai Senggigi merupakan surga bagi para peselancar, maka Pantai Pulau Cubadak merupakan salah satu surga bagi para penyelam.
Pulau ini memiliki beragam terumbu karang dan biota laut yang berwarna warni dan memukau. Bagi yang hanya ingin menikmati keindahan pantai, bisa berjemur di sepanjang pantai di Pulau Cubadak ini. Tidak hanya pantainya saja yang menawan, di Pulau Cubadak ini pengunjung yang memiliki hobi berpetualang di alam bisa menjelajahi hutan yang terdapat di pulau ini. Banyak terdapat hewan-hewan liar seperti monyet, rusa, babi, burung dan berbagai macam satwa lainnya. Dikarenakan masih terdapat hewan liar, sangat dianjurkan bagi wisatawan yang ingin menjelajahi hutan ini menggunakan jasa guide sebagai penunjuk jalan.
Selain terdapat berbagai macam satwa, di dalam hutan juga terdapat sebuah bukit yang dapat dinaiki. Memang harus memerlukan sedikit tenaga untuk dapat sampai ke bukit tersebut, namun sesampai nya di atas semua tenaga dipastikan akan pulih kembali saat menyaksikan keindahan pemandangan dari atas bukit. Dari atas bukit tersebut akan nampak pemandangan laut yang biru, hamparan pasir putih di sepanjang bibir pantai, kumpulan pulau-pulau yang nampak kecil dan ditutup dengan keindahan sunset di kala senja tiba. Banyak wisatawan yang sengaja mengabadikan keindahan pemandangan dari atas bukit ini dengan kamera yang dibawanya.
Bagi yang ingin menginap di Pulau Cubadak, tersedia berbagai cottage yang dibangun dengan sentuhan tradisional dan natural. Harga sewanya mulai dari Rp. 1.900.000 per malam untuk wisatawan mancanegara dan Rp. 900.000 per malam untuk wisatawan domestik.
Berdasarkan data pengunjung, sebagian besar wisatawan yang datang ke Pulau Cubadak merupakan wisatawan mancanegara. Hal tersebut terkait dengan Pulau Cubadak yang dikontrak oleh Nanni Casalegno, seorang warga negara Itali selama 30 tahun. Pada tahun 2012 ini, kontrak tersebut telah berjalan selama 15 tahun. Dia banyak mempromosikan pulau ini ke wisatawan mancanegara.
Selain itu, dahulu pernah ada seorang turis asal Jerman yang menggarap film dokumenter mengenai keindahan Pulau Cubadak ini. Film tersebut mendapat banyak sambutan yang luar biasa dan hal ini menjadi magnet bagi orang Jerman untuk datang berwisata ke Pulau Cubadak. Selain film dokumenter tersebut, beberapa media cetak bahkan menulis artikel mengenai pulau yang disebutkan sebagai “surga”. Majalah wanita Bild de Rau menuliskan mengenai pulau ini dengan judul “Pulau Tersenyap di Dunia”. Yang dimaksud dengan Pulau Tersenyap adalah ketenangan, kesunyian dan kesenyapan di Pulau Cubadak. Meskipun saat ini yang datang ke pulau ini kebanyakan dari wisatawan mancanegara, bukan berarti pulau Cubadak tidak rekomendded bagi wisatawan domestik. Silahkan cantumkan Pulau Cubadak di daftar perjalanan Anda selanjutnya.

Akses ke Pulau Cubadaktransport

Anda dapat memilih penerbangan menuju Bandara Minangkabau, Padang. Setiba di Bandara Minangkabau, Anda bisa menggunakan kendaraan umum untuk menuju Pantai Carocok, Kota Painan. Di Pantai Carocok, Anda bisa menyewa speedboat untuk menuju Pulau Cubadak dengan tarif sewa sekitar Rp. 150.000 dan waktu tempuh sekitar 20 menit. Selain dapat ditempuh dari Pantai Carocok, wisatawan dapat juga menempuh perjalanan dari Pelabuhan Mandeh, Kabupaten Pesisir Utara. Dari pelabuhan ini wisatawan menggunakan kapal wisata dengan perjalanan kurang lebih 15 menit.